Yuk Ikut Melakukan Gerakan Literasi Media

Menganalisa konten saja tidak cukup

Oleh A. Pambudi dan Wening F.

Wening Fikriyati, peneliti Masyarakat Peduli Media (MPM), dalam kesempatan diskusi yang diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Pers Mahasiswa (FKPM) Universitas Islam Indonesia (UII), memberikan beberapa cara untuk menganalisa konten dan sifat media sebagai tips untuk menjadi mahasiswa yang kritis melihat media (melek media).

Di antaranya adalah menganalisa apakah konten yang disajikan medai sudah lengkap? Apakah ada yang kurang?

Pada Minggu (13/3/2016) lalu di UII itu, Wening juga mengajak peserta, yang banyak pula di antaranya adalah pegiat pers mahasiswa, untuk ikut melakukan pendidikan literasi media. Wening menekankan bahwa literasi media adalah gerakan membangun kesadaran dan juga kemampuan masyarakat untuk mengendalikan penggunaan media dalam memenuhi kebutuhannya.

Yusdani, pembicara lainnya dari Pusat Studi Islam (PSI) UII, menegaskan bahwa media apapun yang dikelola oleh masyarakat tidak akan lepas dari ideologi di balik pemiliknya. Wening menambahkan, oleh karena itu masyarakat harus memiliki kesadaran dan pemahaman untuk melek dan kritis terhadap media.

Jika sudah begitu, selayaknya masyarakat dapat ikut mengajak individu atau kelompok lain di lingkungan sekitarnya agar dapat pula menjadi seperti apa yang dipresentasikan Wening: menjadi melek media yaitu memiliki kemampuan menyikapi dampak informasi yang diterimanya dan mengguna-kannya secara bijak sesuai isu yang relevan dengan kehidupannya. Jika ingin melek media, masyarakat dituntut bisa menganalisa konten dan sifat media. Namun apakah itu cukup? apa gerakan literasi media selain ini yang bisa kita lalukan selanjutnya?

Berikut saran dari Wening:

1. Pendampingan dan pemberdayaan masyarakat untuk kritis melihat media

Seringkali media, terutama televisi, dijadikan pengasuh anak, teman pengantar tidur, atau sarana hiburan. Orang tua menyetrika, anak ditontonkan televisi agar diam, tenang, dan tidak menganggu pekerjaan orang tua atau agar tidak berlari-larian. “Orang tua juga sayangnya seringnya tidak tahu apa yang ditonton si anak,” jelas Wening. Padahal banyak tayangan televisi yang tidak aman untuk anak.

Maka tidak cukup hanya melek media diartikan memahami tentang cara kerja dan kualitas televisi yang buruk. Melek media berarti juga memahami bahwa perlu kegiatan alternatif lain selain menonton televisi.

2. Melatih Membuat Media Alternatif sebagai konten tandingan

Salah satu media alternatif adalah memproduksi media sendiri berbasis komunitas sebagai konten tandingan atas konten media arusutama yang tidak berkualitas. Wening mengatakan pada peserta diskusi pers mahasiswa ini, bahwa pers mahasiswa adalah salah satu produk media yang dapat menjadi alternatif di antara sesaknya informasi tidak valid dan bias kepentingan dari media arusutama. Jurnalisme warga adalah alat penting untuk menjadi melek media dan melawan konten arusutama yang sarat kepentingan politik.

3. Diskusi, penelitian, dan publikasi

Memerbanyak diskusi dan penelitian terhadap media, perilaku, dan dampaknya juga dapat meningkatkan kedasaran kritis terhadap media. Hasil diskusi dan penelitian dapat dipublikasikan secara masif dan luas untuk memperkuat tingkat melek media kita.

Leave a Reply