SEMINAR Memerkuat Peran Ibu Dalam Melindungi Anak Dari Pengaruh Negatif Siaran Televisi Melalui Pembentukan Jaringan Sosial Berbasis Media Baru

Kualitas siaran televisi di Indonesia sampai saat ini masih sangat memprihatinkan. Banyak program yang ditengarai melanggar etika penyiaran, dan tidak aman bagi anak-anak, remaja, maupun kelompok terpinggirkan karena sarat dengan unsur kekerasan, pornografi, sensualitas, makian, dan bentuk pelanggaran etik lainnya. Berbagai keluhan tentang rendahnya kualitas siaran televisi juga sudah banyak disampaikan oleh warga masyarakat melalui media massa cetak, radio, forum-forum sarasehan, pengajian, pertemuan ibu-ibu PKK, dan sebagainya, bahkan sering kali ada aksi demo untuk merespon tayangan program televisi yang dianggap kurang mendidik. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sebagai wakil masyarakat untuk ikut serta mengatur bidang penyiaran, sudah tidak kurang-kurangnya memberikan teguran, peringatan, bahkan sanksi kepada stasiun penyiaran televisi yang menayangkan program melanggar etika.

Meskipun reaksi datang dari pihak mana pun, tetapi pihak stasiun televisi tetap bergeming, tidak menggubris, dan seolah menganggap semua itu sebagai angin lalu. Peringatan dari pihak KPI sering kali diabaikan ketika acara yang dinilai oleh KPI melanggar ketentuan yang diatur dalam Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) mempunyai rating tinggi dan secara ekonomis memiliki nilai yang tinggi. Kasus acara “Empat Mata” menjadi “Bukan Empat Mata” di Trans7, dan penghentian sementara penayangan program infortainment “Silet” di RCTI pada paruh kedua 2010 yang kemudian berbuntut sengketa hukum antara pihak KPI Pusat dengan MNC, menandakan betapa tidak berdayanya KPI dihadapan industri penyiaran televisi di Indonesia. Industri penyiaran hanya takut pada Pemerintah sebagai pihak yang memegang kendali izin penyelenggaraan Penyiaran (IPP).

Pada sisi lain, Pemerintah merasa tidak punya kewenangan untuk mengurusi aspek konten karena hal itu sudah menjadi domain dari KPI. Di samping itu muncul juga pandangan bahwa dalam era demokrasi, tidak pada tempatnya pemerintah melakukan intervensi media dengan melakukan kontrol. Sebaliknya, KPI merasa bahwa tidak efektifnya tindakan pengawasan yang dilakukan selama ini karena pihak industri mengetahui bahwa apa pun yang diperbuat oleh KPI terhadapnya tidak memiliki pengaruh signifikan atas eksistensi dirinya.

Melihat realitas yang demikian itu menggugah  kesadaran kita bahwa tidaklah banyak yang bisa diharapkan dari institusi negara untuk dapat melindungi masyarakat dari pengaruh negatif siaran televisi. Istitusi negara sepertinya sedang dipermainkan oleh pelaku industri televisi dengan tidak mau menaati aturan main yang ditetapkan oleh KPI karena seolah merasa mendapat dukungan dari Pemerintah. Ironis memang, dua  institusi yang sama-sama dibiayai oleh APBN, tetapi mempunyai kebijakan yang saling berlawanan satu dengan lainnya.

Mengingat kondisi struktural yang demikian, maka penguatan pada aras masyarakat menjadi agenda yang mendesak untuk dilakukan. Arus bawah itu terutama pada kalangan ibu-ibu yang memiliki peran strategis dalam keluarga maupun lingkungan sosial. Harapannya, semakin kuat posisi masyarakat, terutama kalangan ibu-ibu, maka akan muncul sikap kritis mereka terhadap siaran televisi yang berkualitas rendah. Jika sikap kritis itu kemudian dikelola dengan baik melalui jejaring sosial tentu akan menjadi kekuatan kontrol yang efektif karena mampu menampung aspirasi dari berbagai latar belakang dan lokasi yang berbeda-beda.

Sehubungan dengan maksud tersebut, maka dipandang perlu adanya Seminar yang bertujuan untuk memerkuat peran ibu dalam melindungi anak dari pengaruh negatif siaran televisi melalui pembentukan jaringan sosial berbasis media baru. Melalui seminar, diharapkan ide-ide tersebut dapat disebarluaskan kepada masyarakat dari berbagai kalangan sehingga memperoleh dukungan yang lebih tinggi.

Tujuan dari acara ini adalah:

  • Meningkatkan kesadaran ibu-ibu akan pentingnya peran serta mereka dalam membentuk karakter anak melalui akses tayangan program televisi yang berkualitas.
  • Meningkatkan kemampuan ibu-ibu untuk untuk menonton televisi secara sehat agar dapat melindungi anak-anak, remaja, dan kelompok rentan dari pengaruh negatif siaran televisi yang berkualitas rendah.
  • Mendorong terbentuknya jaringan sosial melalui pemanfaatan media baru sebagai  kekuatan kontrol atas tayangan siaran televisi yang berkualitas rendah.

Seminar ini diharapkan dapat diikuti oleh sekitar 100-150 orang dengan maksud agar permasalahan yang diangkat dapat tersosialisasikan secara lebih luas dan menjadi isu publik. Adapun latar belakang peserta yang diharapkan menjadi target utama seminar ini,yaitu:

    1. Ibu-ibu wakil dari Pengurus PKK di wilayah DIY, organisasi perempuan seperti Aisiyah, Fatayat, Wanita Katholik, dan lainnya, serta wakil dari ibu-ibu yang pernah mengikuti Pelatihan Melek Media di Bantul dan Kota Yogyakarta.
    2. Wakil dari Perguruan Tinggi di DIY yang memiliki jurusan/prodi komunikasi, broadcasting, dan lembaga studi perempuan/anak.
    3. Guru-guru PAUD/TK di wilayah DIY
    4. Aktivis LSM: pendidikan, perempuan, anak, dan media

Sesuai dengan tema dan tujuan yang hendak dicapai, maka seminar ini akan menampilkan 4 (empat) topik wicara dengan narasumber sebagai berikut.
1.Peran dan Tanggung Jawab Pemerintah dalam Melindungi Anak dari Pengaruh Tayangan Televisi yang tidak Sehat
Oleh: Dirjen IKP Kementerian Kominfo RI
2.Peran Ibu dalam Membentuk Karakter Anak melalui Akses Tayangan Program Televisi yang Berkualitas
Oleh: GKR Hemas
3.Meningkatkan Kemampuan Ibu dalam Mendampingi Anak Menonton Televisi secara Sehat, dalam Perspektif Psikologi
Pendidikan
Oleh : Prof. Dr. C. Asri Budiningsih
4.Pemanfaatan Media Baru untuk Membentuk Jaringan Sosial guna melakukan kontrol atas siaran televisi yang berkualitas
rendah.
Oleh : Budhi Hermanto,SIP
Moderator : Darmanto, MPA (MPM)

Seminar akan diselenggarakan pada:
Hari        : Sabtu
Tanggal   : 3 November 2012
Pukul       : 08.00 – 12.00 WIB
Tempat      : Taman Budaya Yogyakarta,  Jl. Sri Wedari No. 01 Yogyakarta

PESERTA TERBATAS, GRATIS selama masih ada tempat.

Pendaftaran bisa dilakukan melalui SMS, Twitter atau email MPM selambat lambatnya Hari Kamis, 2 November 2012.

Kantor MPM (Masyarakat Peduli Media) :
Jl. Ontorejo, Gang Parikesit No. 97 Wirobrajan, Yogyakarta 55252
Telp/Fax    : 0274-417982
Email       : mpm_jogja@yahoo.co.id
Twitter     : @mpm_jogja
Website     : www.pedulimedia.or.id
C.P         : Widodo (0852 2889 2988) dan Nanung (0858 6868 6364)

Leave a Reply