Matikan TV Sehari Saja

 

Oleh A.Pambudi W.

Minggu (24/7), MPM bersama 11 lembaga yang peduli pada media bergabung dalam Koalisi Masyarakat untuk TV Sehat. Koalisi ini melancarkan Aksi yang dibalut dengan nama Gerakan Nasional Hari Tanpa Televisi (TV). Gerakan ini juga didukung oleh sekira 30 ibu-ibu warga Wirobrajan, Yogyakarta, dan Sanden, Bantul. Inisiasi sekira 14 lembaga ini bertujuan mengajak seluruh warga republik ini berpartisipasi dengan cara mematikan televisi selama satu hari pada 24 Juli 2011. Tanggal ini dipilih berdasar kesepakatan nasional bahwa Hari Tanpa TV dilaksanakan pada hari Minggu yang paling dekat dengan Hari Anak Nasional. Hari Anak Nasional jatuh setiap 23 Juli.

“Menjelang usia 18 tahun, anak-anak menghabiskan 25.000 jam untuk menonton TV, melebihi aktivitas lain kecuali tidur, anak-anak juga dipaksa melihat 35.000 siaran iklan, 15.000 berita kematian akibat kekerasan, dan 7000 situasi orang dewasa,” tulis poster Koalisi Masyarakat untuk TV Sehat mengutip Val E. Limburg, Profesor dan Direktur Program Penyiaran di Sekolah Komunikasi Edward R Murrow, Amerika Serikat. Menanggapi data ini, Koalisi Masyarakat untuk TV Sehat menganggap kita, masyarakat, tidak bisa diam saja.

Televisi mendapat keuntungan banyak dari iklan, sedangkan masyarakat (terutama anak-anak) hanya mendapat kesenangan semu berupa tayangan kekerasan, terorisme, mistis dan lain sebagainya. Masyarakat punya kekuatan jumlah untuk menghentikan ini. “Matikan TV satu hari saja,” kata Widodo iman Kurniadi, pengurus MPM, saat orasi aksi di perempatan Malioboro. Semakin banyak yang ikut bergabung dalam aksi ini, maka semakin kecil pemasukan iklan buat televisi. Bergabung berarti sudah turut peduli pada nasib bangsa dan anak-anak Indonesia.

Aksi ini juga diisi dengan pembagian flyer, sticker dan leafleat sebagai bentuk kampanye Hari Anti TV kepada masyarakat. Kampanye yang sudah dilakukan sejak Sabtu (23/7) ini dilakukan di delapan titik di Yogyakarta.  Delapan titik itu adalah perempatan Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Yogyakarta, perempatan Wirobrajan, Jombor, Rejowinangun, Balai Kota Yogyakarta, Kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dan perempatan Malioboro dan Taman Pintar. Pantomim Mime juga ikut melakukan aksi teatrikal bentuk protes dan kritik terhadap perilaku stasiun Televisi. Aksi teatrikal ini bercerita tentang Galuh, anak kecil, yang selalu mencuri mawar tetangganya. Galuh mencuri mawar itu kemudian meletakkannya di atas TV setiap hari. “Setiap hari Galuh meletakkan mawar-mawar di atas televisi karena setiap hari Galuh melihat orang mati di dalam televisi,” kata aktor teater itu sambil berjalan mengitari massa aksi dan melempar-lempar kotak-kotak TV dari kardus dalam aksi teatrikalnya.

Selain itu, aksi ini juga diisi dengan pembacaan surat aduan buat TV kepada KPID. Setelah pembacaan surat, ada juga pengumuman pemenang Lomba Menulis Surat untuk KPID dari Wirobrajan dan Sanden, Bantul. Aksi diakhiri dengan pembacaan Pernyataan Sikap Koalisi Masyarakat untuk Televisi Sehat.

Mereka yang bergabung dalam Koalisi ini adalah:

Masyarakat Peduli Media (MPM), Infest, Pusat Kajian Media dan Budaya Populer (PKMBP), Prodi Ilmu Komunikasi UII, Prodi Ilmu Komunikasi APMD, Broadcasting Center Komunikasi UMY, Prodi Ilmu Komunikasi UPN, FISIP UAJY,  Aisyiyah Yogyakarta, Ikatan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Indonesia (IMIKI) Yogyakarta, Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Yogyakarta, Combine Resource Institution (CRI) Perkumpulan IDEA, dan Klinik Keterbukaan Informasi Publik (Klinik KIP) UII.

 

Leave a Reply