Karena Televisi Bukan untuk Digugu dan Ditiru

Mendampingi anak menonton televisi bukan perkara mudah. Begitu pula menyusun dan menegakkan peraturan menonton TV pada keluarga. Bagaimana melaksanakan hal ini?

Oleh A. Pambudi W, Nur Istifani Rahayu, Anindita Damayanti, dan Hasinadara Pramadhanti

 

Dewi Wulandari mengajak anaknya mematikan (TV) televisi dan segera belajar. Namun anaknya tak juga beranjak dari depan TV. Anaknya kemudian berkilah, “ra ono PR kok, mak? (tidak ada PR kok, bu)” Dewi seketika itu marah. Anaknya mau tak mau harus menuruti permintaan ibunya. Marah memang manjur untuk memaksa anaknya belajar.

Ibu tiga orang anak ini berusaha menerapkan peraturan menonton TV di rumahnya. Ia hanya mengijinkan anak menonton dari pukul 18.00 WIB sampai 22.00 WIB. “Itupun anak-anak harus belajar selama satu jam di sela-sela nonton itu,” katanya. Dewi mengaku tidak mudah untuk menerapkan aturan itu. Ini sebab anak-anak sudah terbiasa menonton tanpa dibatasi sebelumnya. Jika anak-anaknya tidak patuh dengan aturan itu, hal yang dilakukan Dewi adalah marah. Bagi Dewi, itulah senjata andalan yang biasa ia lakukan. “Mereka kan takut kalau saya marah. Dan pasti nurut,” katanya.

Selain tidak mudah menerapkan aturan menonton, Dewi juga seringkali dibalas jawab oleh si buah hati saat menjelaskan dan mengarahkan tontonan yang memertontonkan aksi pukul-memukul. ”Udah tahu, bu. Iya itu bohongan kok. Sakit kalau dipukul,” kata si anak menjawab arahan ibunya. Namun ada dampaknya. Anaknya jadi tak pernah membalas pukul bila dipukul kawannya. Ini karena si anak sudah paham kalau dipukul rasanya sakit.

Yanti, warga Sanden, Bantul, menuturkan pengalamannya juga. Ia cenderung suka ‘menitipkan’ anak pada televisi. “Lha saya malah biasanya anak ta suruh nonton TV. Saya kan bisa nyambi kerjaan lain. Bisa nyapu, masak, nyuci,” kata Yanti.

Sedangkan Elvita, warga pakualaman,  punya cerita sedikit berbeda. “Saya juga tetap ikut mendampingi anak saya menonton TV sambil memberikan pengarahan ketika anak saya bertanya tentang sesuatu hal yang berkaitan dengan tayangan tersebut,” katanya. Ia punya peraturan tegas. Setelah pulang sekolah, anaknya hanya boleh menonton selama satu jam kemudian tidur siang. Setelah itu boleh menonton TV sampai sebelum magrib. Setelah magrib, Ita, panggilan Elvita, tidak memerbolehkan anakanya menonton TV. “Anak saya harus belajar dan mengerjakan tugas yang diberikan sekolah.”

Namun ketika diberi peraturan, si buah hati tidak selalu mengikuti peraturannya. Misalnya, anak sering curi-curi kesempatan menonton TV ketika dilarang menonton TV setelah pulang sekolah dan saat belajar. Anak juga mengulur-ulur waktu dan tidak mengerjakan tugas. Anak beralasan, ”Acara TV masih bagus.”

Tak jarang Ita memberikan hukuman kepada anaknya karena tak bisa mengikuti peraturan yang dibuat. Ita melarang anaknya menonton TV selama tiga hari. “Tapi masih saja anak saya ikut mencuri-curi kesempatan saat orang lain sedang menonton TV,” keluhnya. Kadang Ita suka memberi hadiah pada anak ketika bisa mengikuti peraturan. “Tapi hal ini memberikan efek negatif bagi anak saya, karena mendorong anak untuk menjadi lebih konsumtif.”

Ita bukan tak memberikan kegiatan alternatif. Ketika TV sedang dimatikan, Ita sering menyuruh anak bermain. Namun karena anak tak punya teman bermain, maka ia akan merengek menonton TV. “Tapi saya tetap mengarahkan anak saya untuk membaca buku yang dia sukai atau menggambar,” kata Ita.

Ita menjadi lebih protektif untuk menjaga serta memberi tahu anaknya ketika menonton TV, karena tidak semua tayangan TV yang ditawarkan bisa ditonton oleh anak-anak terutama anak-anak SD. Seringkali anak Ita menonton film yang menayangkan adegan-adegan yang kurang pas, seperti tayangan vulgar.

Solusi Pendampingan

Herlitha Jayadianti, Duta Komisi Penyiaran Indonesia Daerah DIY, memaparkan bahwa tayangan televisi di Indonesia saat ini dinilai tidak cukup sehat bagi anak-anak. Hampir sebagian besar stasiun TV tidak menyiarkan acara yang bertemakan anak-anak. Anak-anak disuguhi acara-acara yang diperuntukan bagi orang dewasa seperti sinetron, reality show, dan acara musik. Hal ini tentu menjadi perhatian bagi orang tua untuk selalu mendampingi dan mengawasi sang buah hati pada saat mereka menonton televisi.

Lalu, tayangan macam apa yang sehat untuk anak?

Wardiyah, Tim Pengembang Kurikulum Aisyiyah, urun pendapat. “Kalau untuk anak-anak baiknya program-program yang bersifat mendidik atau petualangan. Bisa dilihat kalau zaman dahulu anak-anak itu banyak bermain permainan daerah atau tradisional, itu sangat memacu kreatifitas anak-anak. Dan sebenarnya sekarang pun contoh-contoh bermain seperti itu masih bisa kita munculkan,” katanya. Televisi bisa ikut berpartisipasi dengan menayangkan acara mengenai permainan-permainan tradisional. “Sekarang ini kan televisi hanya menayangkan acara demi kepentingan komersial saja,” tambahnya.

“Kalau pertanyaannya adalah tayangan yang seperti apa yang aman dan yang tidak aman, tayangan apa yang boleh ditonton anak. Saya pikir untuk di negara kita saat ini, tidak bisa kita melepas anak begitu saja menonton televisi tanpa pendampingan orang tua. Karena tayangannya sehat, iklannya nggak sehat,”  jawab Herlitha. Menurut Herlitha, cara lain adalah, orangtua juga harus memahami karakter anak mulai dari usia dini. Misalnya tayangan untuk anak usia dini. Tayangan apa yang pantas diberikan bagi anak usia dini? Pada usia tersebut, anak sedang dalam tahap mengamati dan meniru. Apapun yang dilihat oleh anak pasti akan ditiru karena orang dewasa itu teladan bagi anak. “Bukan salah anak, karena anak itu sendiri memang belajarnya dengan cara seperti itu,” jelas Herlitha.

Herlitha berharap orangtua jangan terlalu memasrahkan anaknya pada TV. Kode-kode yang diberikan stasiun TV, seperti SU (Semua Umur), R (Remaja), dan sebagainya pada kenyataannya belum tentu yang disajikan sama isinya dengan kodenya. Kode SU belum tentu (tayangan) di dalamnya untuk Semua Umur. Misalnya tayangan itu sehat, tapi belum tentu iklan yang masuk itu sehat. Ketika memberikan anak sebuah tayangan, tidak hanya filmnya yang dilihat, iklannya pun juga harus diperhatikan. “Misalnya filmnya Bolang. Bolang memang untuk semua umur, tapi orangtua yakin nggak kalau iklannya Si Bolang itu aman buat anak, belum tentu,” kata Herlitha lagi.

Pembuatan aturan dalam menonton televisi pun harus diberlakukan. Bila perlu sang anak dilibatkan dalam membuat peraturan itu, “Karena ketika anak dilibatkan dalam membuat aturan, biasanya mereka jadi lebih sadar dan bertanggung jawab,” kata Herlitha. Ia menekankan, orangtua tidak bisa melarang anak untuk tidak menonton televisi, karena itu merupakan hak anak. Hak untuk mendapatkan hiburan serta informasi.

“Kita yang harus lebih cerdas dari televisi. Kontrol itu harus ada di tangan kita. Walaupun TV itu sudah dengan label, walaupun TV itu sudah dengan sensor, walaupun TV itu katanya memang khusus untuk bayi, Baby TV, atau apapun itu, belum tentu aman,” kata Herlitha menjelaskan.

Herlitha juga menegaskan bahwa inilah tantangan untuk orangtua agar si kecil tidak terfokus pada televisi. Orangtua harus mampu menciptakan kegiatan yang edukatif namun tetap tidak kalah menarik dari acara televisi. Misalnya baca buku, mendongeng, membuat kreativitas, berkebun, memasak bersama, memelihara binatang, membersihkan rumah dan sebagainya.

Herlitha menyarankan tiga hal yang bisa dilakukan orangtua. Pertama, berkomunikasi efektif. Bagaimana cara berkomunikasi dengan anak yang efektif. “Nggak cuma kita ngomong, lalu anak denger. Tetep harus ada rambu-rambu yang harus diperhatikan,” kata Herlitha. Kedua, orangtua perlu tahu tahap perkembangan anak dari berbagai usia. Orang tua perlu tahu karakter anak sesuai dengan tahap perkembangan anak. Ketiga, cara-cara membuat aturan menonton televisi, dan variasi pilihan kegiatan selain TV juga bisa diberikan. Jadi ada banyak yang bisa diberikan orangtua kepada anak agar anak dapat teralihkan dari televisi. Kunci dari proses pendampingan adalah adanya diskusi antara orang tua dengan anak.

“Bila masyarakat banyak berharap banyak dari media itu merupakan hal yang sulit. Karena media berbicara tentang uang, industri komersil, bukan apakah tayangan ini sehat bagi anak,” kata Herlitha. Jadi kontrol harus tetap ada di tangan orangtua.

Belajar dari Cerita pendampingan

Azan magrib berkumandang, Ana Palupi segera mematikan televisinya. Ini adalah aktivitas rutinnya. Ia, dan keluarga, tak menonton televisi (TV) setelah salat magrib. Waktu magrib, sekira pukul 18.00, jadi semacam alarm atau penanda aktivitas menonton TV di rumahnya musti segera diakhiri. Seluruh anggota keluarga juga tak merasa perlu meneriakkan protes. Ini karena seluruh anggota keluarga sudah saling mengerti ada peraturan menonton TV. “Saya menerapkan peraturan bahwa dari menjelang maghrib sampai malam, TV sudah harus dimatikan,” kata Ana. Selain itu, Ana juga mengatur jam belajar dan tidur anak-anaknya. “Setelah waktu magrib anak-anak harus belajar dan setelah waktu isya (sekira setelah pukul 19.00) anak-anak sudah harus tidur,” kata Ana yang sehari-harinya jadi ibu rumah tangga. Bahkan, lanjut Ana, saat anak memasuki masa ujian, ia menambah jam belajar anaknya setelah waktu subuh.

“Ketika bulan puasa seperti ini saya mengarahkan anak-anak untuk menonton tayangan yang sudah dipilihkan oleh orang tua, seperti sinetron PPT,” kata Ana. PPT adalah kependekan dari Para Pencari Tuhan, serial TV besutan Deddy Mizwar. Serial ini tayang menemani makan sahur yang biasa dilakukan umat muslim saat bulan puasa. Menurut Ana, PPT adalah tontonan yang baik karena banyak pelajaran yang dapat diambil. Ia buat peraturan keluarga macam ini karena menurutnya acara TV saat ini kurang mendidik. “Saya melihat acara-acara TV semakin tidak karuan.”

Bukan hanya bikin peraturan, Ana juga membiasakan diri mendampingi anak menonton TV. Selain itu, Ia punya ‘ritual’ lain. Sebelum menonton, Ia cermati dahulu acara TV yang akan ditonton anaknya. Tujuannnya agar anak-anaknya terlindungi dari tontonan yang tidak mendidik. Kebiasaan mencermati tayangan TV ini sudah jadi kebiasaan anak-anaknya juga. “Anak-anak saya sudah bisa memilih sendiri tayangan-tayangan yang baik ditonton karena memang sudah saya tanamkan dari kecil,” katanya. Setelah mencermati, kemudian mendampingi menonton TV. Dalam proses pendampingan, Ana tidak melakukan sendiri, ia juga dibantu oleh suami dan ibunya untuk memantau anak menonton TV. Sebelum anak-anaknya diizinkan untuk menonton sebuah tayangan, Ana memantau terlebih dahulu setiap tayangan yang ia tonton, karena ia pun sadar akan besarnya dampak tayangan TV pada anak-anaknya apabila sejak dini dibiarkan menonton acara yang tidak layak tonton.

Bukan hanya itu, keluarga Ana juga tak kehabisan akal. Kalau tak menonton TV, anaknya tak dibiarkannya kehilangan hiburan. “Anak-anak saya biasanya bermain dengan anak-anak sekitar lingkungan rumah. Selain itu suami saya juga sering mengadakan kuis kecil yang berkaitan dengan agama untuk anak-anak saya.”

Bagaimana Ana menegakkan aturan dan kebiasaan keluarga macam ini? Ana tidak pernah memberikan hadiah ketika anak-anaknya terus konsisten terhadap peraturan. Ia tak memberi hukuman pula pada mereka ketika tidak mengikuti peraturan. Intinya konsisten terhadap peraturan yang telah disepakati seluruh anggota keluarga.“Tidak hanya anak-anak saja yang mengikuti peraturan, tapi orang tua juga ikut serta dalam penerapan peraturan,” ungkap Ana. “Anak-anak juga saling mengingatkan satu sama lain ketika menonton tayangan TV yang tidak pantas untuk ditonton.”

Siti Muthmainah, ibu warga Wirobrajan, punya pengalaman tak jauh beda dengan Ana. Ia sudah membiasakan membatasi waktu menonton TV anak-anaknya sejak anaknya masih kecil. Siti punya tiga anak yang kini beranjak dewasa. Ketika mulai dewasa, anak-anak sudah bisa memilih tontonan sendiri. Meski begitu mereka tetap diawasi orangtua. Serupa Ana, membatasi waktu menonton bukan berarti Setiadi tidak memberikan waktu untuk kegiatan alternatif. “Ketika TV dimatikan anak-anak biasanya membaca, melukis atau buka internet.” Lalu kapan TV harus dimatikan? “Matikan TV setelah magrib sampai isya untuk mengaji dan belajar,” katanya. Siti berpendapat agar para orangtua tetap selektif memilih tayangan dan mendampingi anak menonton TV, terutama sejak dini agar jadi kebiasaan saat anak itu sudah mulai dewasa.

Seperti Ana dan Siti,  Martyastuti, warga Bausasran, punya kebiasaan mendampingi anak menonton TV juga. Uti, panggilan Martyastuti, juga memberikan kesempatan pada anaknya untuk melakukan kegiatan alternatif saat TV dimatikan, “Jika TV dimatikan maka anak-anak akan lebih suka berada di dalam kamarnya masing-masing, mereka akan bermain sendiri atau sekedar membaca-baca.” Menurutnya, ia dapat mengarahkan tayangan mana yang layak ditonton anaknya karena ia ikut menonton bersama. Namun anak-anak Uti sudah otomatis dapat mengalihkan TV karena padatnya kegiatan luar rumah dan luar sekolah. Mereka biasa ikut kursus setelah pulang dari sekolah. Peraturan yang diterapkan pada anak-anak Uti adalah mengerjakan tugas saat siang hari sehingga waktu menonton pun akan terkurangi. Mematikan TV mulai sebelum magrib juga jadi kewajiban. Anak-anak harus belajar saat itu.

Senada dengan Ana dan Setiadi, Uti juga membiasakan peraturan keluarga sejak anaknya masih kecil. Sampai sekarang pun anak-anak Uti masih mengikuti peraturan yang sudah dibuat. Untuk membiasakan hal ini, ia memberikan beberapa masukan. Ibu dua anak ini mengatakan bahwa selain dibiasakan sejak kecil, memberi peraturan itu harus sesuai dengan sifat anak. Tidak semua anak dapat diperlakukan sama. Konsisten dalam penerapannya juga penting.

Reporter: Anindita Damayanti, Hasinadara Pramadhanti, Nur Istifani Rahayu, Putri Anisa, dan Sulistiyawati.

 

Leave a Reply