Kala Publik Berdaya dan Bersinergi

Publik bisa menentukan tayangan televisi, bukan hanya rating.

Oleh A. Pambudi W.

“Kalau ada yang jahat sama aku nanti aku tembak, aku bunuh, aku bom,” kata anak didik Retno Manuhoro suatu ketika setelah menonton film perang. Kali lain, Nurul Hidayati, rekan Retno, mendapati anak didiknya yang berkata pada ibunya,”Aku mau bunuh diri,” kata anak itu sambil bersiap melompat dari motor yang dikendarai ibunya. Tak jarang anak didik Retno mengantuk di sekolah. Sebabnya si anak sering menonton televisi malam harinya. Bahkan ada anak didiknya yang sering menonton televisi sendiri di kamar tidurnya, karena orang tuanya bekerja.

Retno dan Nurul adalah pendidik PAUD di Ungaran. Keduanya sering mendapati anak didiknya berkata begitu karena menonton televisi malam harinya.

Beberapa temuan kejadian ini membuat Retno gelisah pada tayangan televisi. Dampak tayangan televisi tak semuanya baik. Ia dan beberapa guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) akhirnya berinisiatif menyisipkan muatan melek media dalam pengajaran. Retno dan rekan-rekannya menamakan komunitas pegiat literasi (melek) media itu dengan nama Jantaka. Kini pegiat Jantaka berasal dari bermacam profesi, seperti guru PAUD, akademisi, jurnalis, dan mahasiswa yang tinggal di Ungaran dan Semarang.

Lembaga dan komunitas sejenis Jantaka kini telah ada di beberapa kota seperti Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Kudus, Salatiga, dan Solo. Lembaga dan komunitas ini telah melakukan gerakan melek media di daerahnya meski dengan cara yang berbeda. Banyaknya komunitas gerakan melek media ini menginspirasi Lembaga Studi Pers dan Informasi (Lespi), lembaga yang bergerak pada melek media di Semarang, bekerja sama dengan Yayasan Tifa, Jakarta, mengumpulkan pegiat lembaga dan komunitas itu. Acara yang diadakan di Hotel Quest, Semarang, itu dihadiri sekira 40 orang. Lespi mengadakannya agar pegiat literasi media dapat berbagi pengalaman dan saling menguatkan aktivitasnya. Lespi menamakan acara yang berlangsung pada 15 Desember lalu itu dengan tajuk “Jambore Literasi Media”.

Selain Retno dari Jantaka, Muhamad Heychael dari Remotivi, Jakarta, juga berbagi pengalaman. Heychael mengatakan Remotivi mendasarkan gerakan melek medianya pada riset. “Gerakan melek media kita harus melalui beberapa tahap agar perjuangan bisa menjangkau masyarakat luas,” kata Heychael. Tahapan itu adalah identifikasi masalah, lalu riset. Selain itu, gerakan melek media harus mencari keterkaitan tiap profesi dengan isu melek media. Tahap terakhir yang harus dilakukan, adalah membangun aliansi dengan pekerja televisi dan mencari sumber pendanaan. “Sumber pendanaan membuat nafas (perjuangan) kita tetap panjang,” tambahnya.

“Masyarakat selalu kalah bila berhadapan dengan industri televisi,” kata Lilik BW dari Lespi. Lilik BW sebagai angkatan pertama Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Tengah tahu benar bagaimana industri televisi bekerja. Menurut Lilik, Industri televisi tidak takut pada regulasi karena regulasi bisa disiasati. Namun industri takut pada penonton. “Kita sebagai pemilik frekuensi televisi berhak dan punya kewajiban untuk menggugat televisi,” kata Lilik. Heychael menambahkan bahwa publik harus berdaya. Publik bisa menentukan tayangan televisi, bukan hanya rating.

Retno menambahkan, pendampingan oleh orang tua penting dalam pendidikan melek media pada keluarga. “Berdasarkan pengalaman, baik di kota maupun di desa, pendampingan orang tua terhadap anak menonton televisi juga tidak ada. Alasan orang tua macam-macam,” kata Retno. Menurutnya, jenjang pendidikan orang tua yang tinggi juga tidak menjamin orang tua sadar pentingnya mendampingi anak.

Budhi Hermanto dari MPM, Yogyakarta, urun pendapat. Ia mengatakan industri televisi memiliki kepentingan-kepentingan politik yang selalu dititipkan pemilik lewat medianya. Ia menyontohkan dengan memerlihatkan cuplikan tayangan salah satu stasiun televisi swasta. Tayangan itu memerlihatkan pada forum bagaimana pekerja televisi memilih diksi yang sesuai dengan kepentingan pemilik media. Lelaki berkacamata ini kemudian memantik forum agar bergerak bersama menggugat televisi. “Kita mau ngapain kalau lihat situasi televisi kita seperti begini?” tanya Budhi. “Kita harus bersama-sama dan perbanyak kekuatan untuk menggugat televisi karena industri media begitu kuat,” jawabnya. Gerakan melek media di masing-masing daerah akan sulit menghadapi industri televisi jika tak bergerak bersama.

Jambore Literasi Media, yang juga pernah dilaksanakan Masyarakat Peduli Media (MPM) pada februari lalu, kali ini diselingi dengan lomba dongeng anak tentang melek media. Anak-anak usia sekolah berlomba mendongeng dengan muatan melek media. Isi dongengnya macam-macam, dari cerita anak yang malas belajar karena suka menonton televisi, sampai cerita anak yang sangat percaya dengan tren paras cantik yang dikonstruksi oleh iklan kosmetik. Lomba ini merupakan salah satu metode cukup kreatif dalam pembelajaran literasi media yang dilakukan Lespi. Dongeng adalah salah satu kegiatan alternatif guna mengalihkan anak dari menonton televisi. Para pegiat literasi media dan masyarakat dampingan yang hadir bertepuk tangan takjub setelah memperhatikan seorang juara lomba dongeng bercerita dengan gaya yang ekspresif.

Menutup sesi ini, Irene dari Lespi, yang juga pekerja televisi, menjadi peserta diskusi terakhir yang mengungkap kesannya. “Terima kasih atas banyak ilmu dan vitamin dari forum ini,” kata Irene. “Terus semangat dan tekad bahwa idealisme harus tetap dijunjung di manapun kaki dipijak, saya dan teman-teman pekerja televisi masih punya harapan agar bisa berkarya dengan selalu membuat program yang memberi pembelajaran,” pungkasnya.q

Leave a Reply