Herlitha Jayadianti: “Kita memang harus lebih cerdas dari televisi.”

Herlitha Jayadianti: “Kita memang harus lebih cerdas dari televisi.”

 

Orangtua harus selalu mendampingi anak menonton TV, apapun acaranya. Karena tidak semua acara TV sehat dan baik ditonton anak. Fungsinya agar orangtua bisa juga menjelaskan Iklan TV yang muncul di sela tayangan TV. Bisa jadi acara TV bagus, tapi iklan tidak bagus. Tidak mendidik. Lebih lengkapnya pada kesempatan kali ini reporter Matamedia, Hasinadara  Pramadhanti, mewawancarai Herlita Jayadianti (32) Guru Ketrampilan di SD Tumbuh Jogja Educational Spirit yang juga  Duta Komisi Penyiaran Indonesia Daerah DIY.  Berikut petikannya.

 

Bagaimana mengenali tayangan yang sehat untuk anak?

Sekarang yang perlu kita pahami adalah karakter anak usia dini itu seperti apa. Anak itu belajar dari meniru dan mengamati, sementara mereka sendiri belum tahu mana yang benar dan mana yang salah. Yang mereka tahu, apa yang dilakukan orang dewasa pasti benar. Orang dewasa adalah teladan untuk ditiru. Di sini peran orangtua. Orangtua tidak bisa pasrah dengan TV, ketika TV ada kodenya, R berarti Remaja, kodenya SU berarti Semua Umur. Karena kenyataannya dengan logo SU belum tentu dalamnya untuk semua umur. Misalnya tayangan itu sehat tapi belum tentu iklan yang masuk itu sehat.

 

Jadi pada intinya semua tayangan harus tetap membutuhkan pendampingan ?

Ya, pendampingan. Dan pada umumnya kita memang harus lebih cerdas dari televisi. Kontrol itu harus ada di tangan kita walaupun sudah berlabel SU, maupun sudah disensor.

 

Apa yang harus dilakukan orangtua ketika TV dimatikan?

Sebenarnya ini tantangan buat orangtua. Kalau orangtua ingin anaknya tidak fokus di televisi, orangtua bisa menciptakan kegiatan yang edukatif dan tetap menghibur untuk anak anak. Kita nggak bisa bilang, “Matikan TV, nggak boleh nonton!” Terus anaknya ngapain? Nonton TV itu termasuk hak anak. Anak punya hak perlindungan, hak partisipasi, hak hidup, hak untuk mendapat hiburan, termasuk hak tumbuh kembang. Ketika anak dalam masa pertumbuhan dan perkembangan, salah satunya dia butuh hiburan. Dan bagamana kalau itu sudah dirampas oleh orangtua, dengan tidak boleh nonton TV.

Sementara untuk main keluar lahannya sudah terbatas, nggak ada tempat yang aman utnuk anak-anak bermain di luar. Dan satu-satunya memang pilihannya hanya TV. Karena mereka tidak punya alternatif kegiatan lain. Orangtua harusnya bisa memilihkan  kegiatan yang aman tapi tetap tidak kalah menariknya dengan TV. Misalnya baca buku, mendongeng, membuat kreativitas, berkebun, memasak bersama, memelihara binatang, membersihkan rumah, itu kan bisa dijadikan alternatif kegiatan untuk mengalihkan anak dari televisi.

 

Lalu bagaimana cara menonton TV yang sehat di keluarga?

Kita ajak anak diskusi dulu biar semua muncul dari anak, bukan dari orangtua. Jadi kita tidak menjadi orangtua yang otoriter. Ketika anak dilibatkan dalam membuat aturan, biasanya mereka jadi lebih sadar, jadi lebih bertanggung jawab, jadi tahu sendiri, nggak perlu terus-terusan diingatkan. “O iya ya kemarin saya sendiri yang bilang bahwa nonton TV jam 4 sampai jam 6 pas ada ibu karena isinya nggak aman. Kalau saya nontonnya jam 1 berarti saya nggak bertanggung jawab dengan aturan yang telah saya buat sendiri.” Jadi belajar bertanggung jawab, disiplin, mematuhi apa yang dia buat sendiri itu kan, untuk ke depan baik. Jadi dia lebih menjadi pribadi yang bertanggung jawab .

 

Kesalahan umum apa saja yang sering terjadi dalam praktek pendampingan?

Saya pikir ini ya, TV sudah dijadikan orangtua kedua. Jadi orangtua itu merasa ketika TV menyala anaknya nonton mereka bisa, “Ah saya di dapur ajalah.” Misalnya sambil masak tapi TV dikerasin, jadi bisa denger kalau ada apa-apa tetep bisa dikontrol. Tapi masalahnya mendampingi anak bukan terus orangtua di dapur, anak menoton TV di ruang keluarga, TV nyala keras sama-sama dengar. Itu berbeda maknanya. Tidak seperti itu. Orangtua harus ada di sebelah anaknya, diskusi dan tanyakan. Misal ada adegan tertentu. Misal di tayangan Upin-Ipin, ada teman Upin-Ipin yang anaknya perhitungan , sangat pelit. Kita bisa tanya ke anak, “Kalau kamu punya teman seperti itu suka apa nggak? Kira-kira kalau kamu seperti itu teman-temanmu suka apa nggak?” Nah itu bisa didiskusikan. Jadi anak tidak meniru karakter yang ada di tayangan itu. Kesalahan itu, ketika anak-anak menonton TV kemudiaan orangtua sambil bekeja di dapur, sebenarnya itu bukan pendampingan. Pendampingan yang sebenarnya adalah duduk bersama anak diskusi tentang tayangan itu terus mendiskusikan iklannya juga. Jadi ya ada diskusi dua arah.

 

Bagaimana cara orangtua seharusnya menegakkan aturan tersebut?

Ketika membuat aturan harus disertai dengan konsekuensi, jadi misalnya “Menurutmu nonton TV yang baik itu berapa lama? kalau lebih dari dua jam terus konsekuensi yang kamu terima apa?” Kita kembalikan ke anak. “Kalau lebih dari dua jam tidak boleh naik sepeda.” Jadi aturan harus disertai konsekuensi, harus disertai dengan kedisiplinan, konsisten dan konsekuen. Jadi aturan itu juga harus berlaku bagi semua orang yang ada di rumah. Orangtua harus tegas ketika anak merengek jangan dituruti karena itu bisa dijadikan senjata untuk mendapatkan apa yang dia mau. Sekali anak merengek jangan dituruti, kita kembalikan kepada anak. Kalau tetep dituruti tapi konsekuensi harus selalu dijalankan. Jadi orangtua harus bisa jadi contoh bagi anak, orangtua harus mampu mengorbankan kesenangan untuk anak.

 

Pesan dan saran ibu terhadap media?

Tayangan TV sekarang jelas sangat memprihatinkan untuk tayangan yang itu aman untuk anak masih jarang sekali sulitlah. Kalau di Eropa satu jam sebelum tayangan dan satu jam setelah tayangan anak itu free dari iklan. Sementara di negara kita tidak bisa. Kalau di Eropa, beberapa negara sudah mensterilkan tayangan anak dari iklan. Kalaupun tayangan itu iklan permen, seteleh iklan permen pasti dilanjutkan dengan iklan gosok gigi. Dan semua tayangan di sana mengajak anak untuk sadar gizi. Sementara tayangan di Indonesia tidak mengajar untuk sadar gizi.

Jadi yang paling penting, kita berharap banyak dari media itu sulit. Karena media bicaranya adalah uang, mereka industri komersil. Kontrol harus ada ditangan kita, kita harus lebih cerdas dari TV. Karena anak adalah titipan dari Tuhan maka mereka harus mau mendampingi anak menonton TV.

 

Leave a Reply