GKR Hemas: Televisi Turut Membentuk Karakter Anak

Mendiskusikan tayangan program televisi tidak lepas dari isu pembentukan karakter bangsa. Bagi permaisuri Sultan HB X, pendidikan karakter sejak dini menjadi sangat penting untuk menanamkan nilai-nilai religiusitas, nasionalisme atau kebangsaan, kebudayaan serta nilai luhur lainnya dari para pendahulu. Pendidikan karakter anak sesungguhnnya tidak hanya didapatkan dari bangku sekolah, tetapi yang lebih banyak berperan justru orang tua dan lingkungan sosial. Televisi sebagai lingkungan sosial mempunyai kontrinusi besar dalam pembentukan karakter anak. Pendapat itu disampaikan oleh GKR Hemas di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Sabtu, 3 Nopember 2012 ketika menjadi narasumber Seminar yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Masyarakat Peduli Media (MPM) Yogyakarta bekerjasama dengan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Provinsi DIY.

Seminar mengangkat tema,”Memerkuat Peran Ibu Dalam Melindungi Anak dari Pengaruh Negatif Siaran Televisi Melalui Pembentukan Jaringan Sosial Berbasis Media Baru” menampilkan narasumber lainnya Profesor Dr. C. Asri Budiningsih dari FIP UNY dan Budhi Hermanto dari MPM. Peserta seminar berasal dari berbagai kalangan seperti akademisi, mahasiswa, ibu rumah tangga, pengurus PKK, aktivis, maupun seniman.
Menurut GKR Hemas, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin canggih menghadapkan orang tua pada permasalahan yang kian kompleks dalam mendampingi anak-anak bertumbuh menemukan jati dirinya. Masa anak-anak yang identik dengan dunia bermain kini seolah menghilang, permainan tradisional digantikan oleh digital dan yang serba praktis. Begitu pula dengan tontonan, musik, dan bacaan anak-anak sudah menghilang tergantikan dengan game dan gadget canggih. Dampaknya anak-anak menjadi individual dan tidak memiliki kemampuan mengembangkan diri dalam berinteraksi sosial. Liberalisasi media melahirkan acara-acara televisi yang laku di pasar, tanpa memikirkan sisi edukasi dan pengembangan karakter anak. Maraknya tayangan televisi pada jam-jam “prime time” membuat anak semakin berlama-lama di depan televisi. Padahal menonton TV terlalu banyak sangat tidak baik bagi anak karena kegiatan itu bersifat pasif.
Orang tua memiliki peran strategis dalam membimbing anak untuk melakukan kegiatan aktif dan produktif. Orang tua dapat mengatur waktu dan memberikan prasyarat bagi anak-anak ketika akan menonton televisi misalnya ‘hanya menonton program yang dipilih’, ‘televisi akan dimatikan pada waktu tertentu’, atau ‘tidak boleh nonton TV sebelum PR selesai’. Membuat aturan ini terkadang sulit bagi orangtua, tetapi perlu dilakukan sejak dini.
Wakil Pimpinan DPD RI dari Provinsi DIY itu menekankan bahwa media informasi, baik televisi maupun internet memiliki potensi besar dalam mempengaruhi pembentukan karakter anak-anak. Oleh karena itu, pemilik media harus mempertimbangkan nilai-nilai edukasi dalam membuat tayangan program. KPI sebagai lembaga independen yang bertugas memonitor dan mengedukasi masyakarat juga harus lebih giat menyosialisasikan melek media bagi para orang tua agar dapat membimbing anak-anak untuk memperoleh tayangan yang berkualitas.
Menyadari pentingnya literasi media, maka GKR Hemas berharap agar kerjasama MPM dengan DPD DIY berkesinambungan sehingga dapat menyelenggarakan kegiatan rutin minimal dua bulan sekali untuk memberdayakan masyarakat sehingga dapat mewujudkan Yogyakarta sebagai kota yang ramah anak dengan tayangan program televisi berkualitas. “DPD mempunyai anggaran yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat”, tegas Ibu Ratu.

Leave a Reply