DISKUSI PUBLIK MEDIA SOSIAL UNTUK PILPRES YANG BEKUALITAS DAN BERADAB

Pascapelaksanaan Pemilihan Umum Legislatif 2014 (Pileg), penggunaan media sosial untuk kepentingan Pemilu Presiden 2014 (Pilpres) cenderung meningkat. Apalagi setelah diumumkannya pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden (Capres/Cawapres) oleh masing-masing partai politik dan koalisinya, intensitas penggunaan sosial media untuk kampanye Pilpres makin tinggi.
Ada berbagai varian dalam pemanfaatan media sosial untuk kepentingan kampanye Pilpres. Pertama, untuk mempublikasikan gagasan, visi, misi, dan program kerja Capres/Cawapres. Fungsi ini lebih banyak dijalankan secara aktif oleh masing-masing Tim Kampanye. Kedua, untuk melipatgandakan berita-berita yang dipublikasikan oleh pihak lain di luar Tim Kampanye, termasuk oleh media massa lain. Fungsi ini ada yang dijalankan oleh Tim maupun pendukungnya, maupun oleh lawannya. Ketiga, untuk memberikan tanggapan atas berita-berita terkait dengan pencapresan. Fungsi ini dijalankan oleh pelaku media sosial baik secara individual maupun kelompok. Keempat, untuk melakukan serangan-serangan yang bertujuan untuk memecah perhatian terhadap isu tertentu dari masing-masing pendukung capres/cawapres. Fungsi ini tampaknya dijalankan oleh “kekuatan terlatih”, tetapi tidak maksud dan tujuannya tidak diketahui pasti untuk siapa.
Di antara empat jenis varian tersebut, hanya varian pertama yang menunjukkan kondisi normatif. Tiga jenis jenis lainnya, lebih banyak menampakkan karakter yang kasar, bengis, licik, jahat, menyesatkan, saling merendahkan, saling menyerang, dan lain-lain yang bersifat negatif. Secara umum produksi informasi dalam sosial media kita dalam kaitan Pilpres 2014 mencerminkan masyarakat yang tidak beradab.
Jika kecenderungan bermedia sosial dalam rangka Pilpres berlangsung seperti sekarang, hal tersebut berpotensi merusak harmoni sosial, dan merusak sikap mental atau karakter generasi muda mengingat pengguna terbanyak media sosial adalah kalangan mereka. Penggunaan media sosial untuk Pilpres dengan karakter yang ada sekarang ini hanya akan mereproduksi “kelainan jiwa sosial” bangsa dan berpotensi melemahkan kehidupan demokrasi.
Mengingat media sosial memiliki jangkauan global, simultan, dan personal, sudah seharusnya lebih diarahkan untuk mewujudkan Pilpres yang Berkualitas dan Beradab. Dengan demikian, para pengguna media sosial seharusnya bertindak secara cerdas, kritis, tetapi menjunjung tinggi kearifan. Penggunaan media sosial dalam Pilpres seharusnya memberikan kontribusi positif bagi calon pemilih untuk mengetahui rekam jejak secara obyektif tentang Capres/cawapres, membangun tradisi pemilih yang rasional, dan mempertinggi kualitas kebudayaan bangsa. Untuk meningkatkan peran media sosial dalam rangka menciptakan Pilpres yang berkualitas dan beradab, perlu dilakukan Diskusi Publik yang melibatkan berbagai kalangan.

Permasalahan
Diskusi publik ini dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan utama, bagaimana seharusnya menggunakan media sosial agar dapat mewujudkan Pilpres 2014 yang bekualitas dan beradab?

Tujuan Diskusi Publik
1. Membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya menggunakan media sosial untuk mewujudkan Pilpres 2014 yang
berkualitas dan beradab.
2. Mendorong Tim Pemenangan Capres/Cawapres beserta pendukungnya agar menggunakan media sosial untuk mencerdaskan,
mendidik, dan memberikan informasi obyektif tentang rekam jejak Capres/cawapres kepada calon pemilih.
3. Membangun kesepakatan bersama tentang bagaimana seharusnya menggunakan media sosial untuk mewujudkan Pilpres 2014
berkualitas dan beradab.

Peserta Diskusi
Peserta Diskusi Publik diharapkan sekitar 50 orang yang terdiri dari berbagai kalangan baik yang diundang oleh MPM maupun KPU DIY. Latar belakang peserta diharapkan beasal dari:
1.Komisioner KPU DIY dan jajarannya
2.Bawaslu DIY
3.Tim Sukses masing-masing Capres/cawapres
4.Pengelola media sosial
5.Jurnalis
6.Akademisi, mahasiswa, pelajar
7.Pegiat Ogranisasi Masyarakat Sipil
8.Warga masyarakat yang tertarik dengan isu tersebut

Pola Diskusi Publik
Dalam diskusi ini tidak ada narasumber utama karena semua peserta mempunyai kedudukan sebagai pembicara. Oleh karena itu peran Moderator (Budhi Hermanto) menjadi sangat sentral karena akan menentukan tercapainya tujuan diskusi. Dengan demikian, format tempat duduk sebaiknya dibuat melingkar, tidak perlu meja. Untuk memulai diskusi, moderator dapat menunjuk peserta menyampaikan pemikirannya sebagai pemantik

Waktu dan Tempat Diskusi
Diskusi Publik akan diselenggarakan di Kantor KPU DIY, pada hari Jumat, 6 Juni 2013 pukul 13.00 sampai dengan selesai.

Penyelenggara Diskusi
MPM bekerjasama dengan KPU DIY, JRKI, dan Combine Resource Institution (CRI)
Sekretariat: Masyarakat Peduli Media (MPM)
Jl. Ontorejo Gang Parikesit No. 97 Wirobrajan Yogyakarta
Telpon: (0274) 417982 CP. 0878 8373 3232
Email: mpm_jogja@yahoo.co.id
Website: www.pedulimedia.or.id

Leave a Reply